Rabu, 15 Juni 2011

Di kota bernama "Garut"


Jujur... walaupun kota Garut ini dekat dengan rumah saya, tapi kunjungan saya ke kota ini masih bisa dihitung sejumlah jari tangan. Sebelum kedatangan pertama saya kesini, saya membayangkan kalau Garut itu kota kecil (dan ternyata memang "kecil" :D ). Tapi, dalam kota kecil ini banyak menyimpan beragam keunikan. Kedatangan saya pertama kali waktu itu pada malam hari dan kesan yang tertangkap adalah bahwa kota ini "aman" dan "bersahabat". Di setiap sisi kota ini saya selalu bertemu dengan penduduk yang baik dan ramah tentu dengan logat bicaranya yang khas "Nyunda" ^_^. Dengan tangan terbuka mereka menyambut para pendatang ataupun pelancong yang memang sengaja bertandang untuk tamasya ataupun sekedar transit karena kehabisan bekal, jadi untuk para backpacker yang kebetulan nyasar ke kota ini tinggal datangi Masjid terdekat ^^v.

Selain penduduknya yang ramah, adat dan budaya mereka pun unik. Biasanya saya naik delman di kota-kota lain itu sistemnya seperti taxi. Delman itu saya sewa kemudian diantar kemanapun saya minta, berbeda dengan di Garut. Disini delman sistemnya seperti mobil angkot, tidak disewa perorangan tetapi ada trayek dan tarifnya. Delman itu juga "ngetem" menunggu penumpangnya penuh, jika memang tidak sedang terburu-buru waktu asik juga mencoba angkutan delman ini ;). Di kota Garut ini juga dikenal istilah "Asgar" yang ternyata adalah domba aduan yang ukurannya lebih besar dari domba kebanyakan. Konon katanya domba ini juga mempunyai tanduk (mohon dikoreksi jika saya salah, karena beberapa kali kesini belum sempat menonton pertunjukan ini). Dan memang selain ajang taruhan bagi si pemilik domba, "Asgar" juga menjadi pertunjukan yang khas dan dinanti di Garut ini.

Dari budaya, yuk kita jelajahi tempat-tempat yang recomended di Garut. Mungkin kalau kampung Sampireun sudah banyak yang tahu dan sudah banyak diulas ya, ataupun tempat pemandian Cipanas yang terkenal di Garut. Jadi, mungkin saya tambahin deh tempat yang asik juga di Garut untuk didatangi. Ada satu pasar yang sangat ramai di malam hari dan sepertinya keramaiannya terpusat disini, namanya pasar "Ceplak". Pasar ini terletak di tengah kota dekat dengan perkantoran Pemkot. Jika bingung mau makan dimana, di pasar Ceplak ini banyak pilihan hingga kue-kue juga banyak tersedia. Selain itu, ada yang namanya "Darajat Pass (DP)" berlokasi agak jauh dari kota Garut menuju ke Darajat. Mungkin kalau saya tidak dinas di tempat ini, saya juga ga akan pernah tahu tempat ini. Tapi sempat exciting juga karena perjalanan ke Darajat ini tidak sebentar dan memang karena menuju gunung sehingga jalannya berliku-liku. Tapi begitu sampai di Darajat Pass ini, hmm... pemandangannya betul-betul asri dan yang saya bingung kok digunung gitu wisatanya kolam renang yaa. Jika itu bukan air panas, saya tidak bisa membayangkan rasanya berenang di kolam itu, tapi kok ternyata banyak juga pengunjung kolam renang DP itu.

Ada satu yang menjadi ganjalan saya tentang Garut ini, di Garut ada sumber energi untuk pembangkit listrik yaitu tenaga panas bumi (Geothermal). Ada dua sumber yang sudah dieksplorasi, Kamojang oleh Pertamina dan Darajat oleh Chevron. Dengan adanya dua sumber energi ini seharusnya listrik yang dihasilkan lebih maksimal terutama untuk daerah Garut sebagai tempat sumbernya. Tetapi saya lihat, penerangan di Garut ini sangat minim, jangankan di pinggiran di kota Garutnya saja jika kita jalan-jalan di malam hari,lampu-lampu kotanya sangat redup. At least, kota ini bisa dijadikan alternatif untuk liburan dan bisa tidak kalah dengan puncak jika pemerintahnya mau menggali lagi potensi wisatanya. Yah daripada weekend bete bermacet-macet ria di Puncak dan Bandung, sekali-kali boleh juga liburan di Garut bareng keluarga ^_^



Selasa, 25 Januari 2011

For My Yulianto Kurniawan


Wahai lelaki yang runtuhkan egoku…

Awal pertemuanku denganmu biasa saja

Selayaknya hari bernaung langit terang berganti gelap

Selayaknya roda yang terus berputar pada porosnya

Tak terfikir untuk berpeluh di pelukmu


Wahai lelaki yang buatku tenang…

Bukan sekedar tulisan atau lisan yang terbuat

Bukan sekedar khayal atau mimpi yang terharap

Kurasakan setiap detiknya, detakmu perlahan mengisi hatiku

Serasa alam tlah mengantarkanmu padaku


Wahai naungan rinduku…

Mungkinkah memang dirimu jelmaan sosoknya

Sosok yang tlah lama kunantikan

Pribadi yang membuat hatiku tentram

Dekapan yang sungguh sangat kuidamkan


Wahai matahari terbenamku…

Berarak belaian mengusik senja

Menghangatkan setiap bait relungku

Sesederhana semburat di cakrawala

Membimbing mimpi menuju hariku


Wahai cinta terakhirku…

Aku bukanlah Khadijah ataupun Hajar

Yang sempurna dalam menjaga dan setia dalam sengsara

Aku hanyalah wanita akhir zaman

Yang berusaha menjadi perhiasan dunia

Sebagai wanita yang sholehah…