Saya tahu, dengan nalar dan logika memang sudah semestinya kita memerlukan agama sebagai pedoman, norma/pembatas ketika kita "berlebihan" atau menyimpang dari kebaikan, sebagai identitas diri manusia yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan, sebagai cara untuk berterima kasih dan berinteraksi dengan Tuhan dan makhluk lain ciptaan Tuhan. Lalu mengapa dari identitas diri itu malah menimbulkan keegoisan yang berlanjut pada menghakimi, merasa diri paling benar dan jadi sombong takabur. Apakah pencarian Tuhan ketika kita memeluk suatu agama adalah tepat? Tuhan adalah prasangkamu, kita tidak mungkin untuk menebak nebak sendiri Tuhan itu seperti apa. Tetapi memang seharusnya Tuhanlah sendiri yang "Memperkenalkan diri" kepada kita. Sehingga sebenarnya sudah jelas dimana kitab agama yang berkeTuhanan Yang Maha Esa, Tuhan sendiri banyak memperkenalkan diri. Lalu sebenarnya tujuan kita beragama apa? Mungkin saya pribadi lebih ke arah pencarian jati diri, dalam upaya memahami diri sendiri yang nanti ke depannya tindakan saya lebih didasarkan pada kesadaran dan tanggung jawab sehingga diharapkan tidak merugikan orang lain.
Berikut salah satu penulisan filsafat di Kompasiana, 4 April 2010. Semoga dapat memberikan manfaat bagi yang sering bertanya-tanya ^_^ :
Mengapa saya (perlu) mempelajari agama?
1. Mengenal sang ilahi.
Banyak orang mengatakan bahwa tujuan mereka mempelajari agama adalah untuk (lebih) mengenal sang ilahi yang dapat ditemukan melalui kitab suci (terutama) dan tradisi yang berkembang sejak dahulu kala. Namun, hal yang harus selalu diingat dan ditekankan adalah bahwa kitab suci bukan berasal dari langit atau tiba-tiba muncul, tetapi ditulis oleh berbagai orang yang hidup dalam konteks kehidupan yang berbeda dengan konteks masa kini (abad 21). Tulisan mereka itu, pertama-tama dan terutama ditujukan hanya kepada orang-orang yang hidup di zamannya. Poin no. 1 ini merupakan jawaban yang paling sering orang katakan.
2. Memahami diri sendiri.
Mungkin banyak orang tidak menyadari bahwa tujuan mereka mempelajari agama merupakan upaya mereka memahami dirinya sendiri. Dengan mempelajari agama banyak orang sesungguhnya berupaya memahami jati dirinya sebagai makhluk ciptaan sang ilahi. Poin no. 2 ini sedikit-banyak berkaitan dengan paham mistisisme yang selalu bertanya: Siapa saya? Dari mana asal saya? Apa tujuan hidup saya di dunia ini? Ke mana saya akan pergi setelah saya mati?
3. Memahami orang lain.
Bagi begitu banyak orang agama yang dianutnya merupakan unsur sangat atau paling penting dalam hidupnya. Mereka melihat hidupnya dalam terang agama yang dianutnya. Artinya, makna hidup mereka ditentukan oleh agama yang dipeluknya. Hal ini bisa memicu para penganut agama lainnya untuk tertarik mempelajari agama (-agama) yang berbeda. Tanpa disadari banyak orang, mereka sedikit-banyaknya memiliki rasa keingintahuan mengenai agama lain. Artinya, dalam pengertian yang sempit, mereka berusaha memahami orang lain melalui agama yang dianut orang lain tersebut.
4. Memahami budaya manusia.
Agama adalah ciptaan manusia. Agama merupakan salah satu hasil budaya manusia. Oleh karena itu, tanpa disadari oleh sebagian besar orang, sesungguhnya mereka selalu memiliki keingintahuan yang cukup besar/tinggi untuk mengetahui dan memahami setidaknya sejarah agama mereka sendiri. Ketika orang berbicara sejarah maka sesungguhnya ia sedang berbicara mengenai budaya. Mempelajari sejarah agama berarti mempelajari budaya agama, bukan saja agama di masa lalu, tetapi juga agama di masa kini.
5. Membentuk dan memahami sudut pandang diri sendiri.
Ketika orang mempelajari agamanya maka tanpa disadarinya ia mampu membentuk dan memahami sudut pandang yang dimilikinya. Bukan hanya itu, melalui agama seseorang dapat menemukan dan menjelaskan berbagai persamaan dan perbedaan yang dimiliki antara dirinya dan orang lain. Setelah seseorang mempelajari agamanya dan/atau agama lain, entah ia memiliki sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya atau ia semakin teguh dengan sudut pandang yang dimilikinya. Namun hal yang jelas adalah bahwa dengan mempelajari agama seseorang mampu membentuk dan memahami sudut pandang yang dimilikinya.
6. Memperoleh pekerjaan.
Tidak sedikit tujuan orang mempelajari agama adalah untuk mendapatkan pekerjaan demi status sosial tertentu dalam keluarga atau masyarakat. Hal ini biasa terjadi di tengah-tengah masyarakat yang sedang berkembang. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ketika semakin banyak orang yang rela meninggalkan pekerjaan lamanya demi mengambil kuliah teologi atau agama sehingga kelak menjadi pemimpin agama tertentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar