Hari ini hari yang cukup complicated, bukan untuk saya tetapi untuk orang-orang yang sedang diekspose besar-besaran di media. Entah sampai kapan orang-orang (termasuk saya) akan bosan membicarakan beritanya. Sebenarnya sih beritanya biasa saja dibandingkan dengan berita korupsi yang setiap hari selalu menghiasi layar televisi kita dan lama-lama seperti sudah terbiasa melihat para koruptor menggerogoti dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Tapi ya itu tadi, masyarakat itu lebih menyukai berita yang sensasional dan tidak monoton jadi yaa kesalahan dan kekhilafan orang lain yang sebenarnya "hanya akan berdampak pada diri sendiri dan segelintir orang" malah dianggap oleh banyak orang seperti sebuah aib dunia yang karena perbuatan mereka semua rakyat akan sengsara. Padahal banyak orang malah "menikmati" dalam melihat atau menonton keaiban itu. Sadarkah kita kalau kita pun memiliki aib dan dosa yang bukan tidak mungkin suatu hari nanti mengalami nasib serupa dan tidak akan ada seorangpun sesama manusia mau mengerti?? Tuhan telah memberi peringatan kepada orang tersebut tapi apakah kita berhak untuk menghakimi?? Marilah teman, cobalah mengambil hikmah dari semua masalah yang ada di sekitar kita agar kita bisa mengambil pelajaran positif dari setiap kejadian.
Hari ini, Saya menyaksikan komentar orang2 di dunia maya tentang "video" Ariel-Luna Maya yang belum habis dibahas tuntas kasusnya telah beredar lagi "video" Ariel-Cut Tari. Whatever lah itu benar atau tidak tapi kita sebagai sesama manusia yang gudangnya khilaf tidak berhak menambah2 onar atau malah membuat lebih luas lagi peredaran video aib tersebut. Hikmahnya yang bisa diambil yaitu sebagai manusia itu memang tidak akan ada kata puas dalam hal apapun, tapi cobalah untuk bersyukur apapun yang kita usahakan dan kita terima saat ini. Berusahalah untuk bisa melakukan sesuatu yang berarti dan bermanfaat untuk orang lain, jangan pernah menghitung-hitung apa yang sudah pernah kita beri atau keluarkan. Sering-seringlah meminta maaf ketika kita melakukan kesalahan pada orang lain karena hati manusia tidak ada yang tahu kecuali Allah. Dengan tidak mendzalimi orang lain dan selalu berusaha untuk berbuat baik, insya Allah kita pun akan dihindarkan dari orang-orang yang ingin mencelakai kita, orang-orang yang dendam pada kita, jangan pernah sombong dan takabur karena jika kita sombong maka orang akan banyak menguji apa yang kita sombongkan. Karena sifat dasar manusia itu selalu ingin tahu maka bukan tidak mungkin akan mencari-cari bahkan kesalahan orang lain.
Kasus kedua di dunia nyata yaitu "petinggi puspiptek yang terjerat kasus penjualan bahan baku narkoba" yang terjadi di puslit kimia LIPI. Yang asal mulanya adalah dari limpahan bahan sitaan dari polda dan kejaksaan kepada puslit kimia tahun 2007 yang diperintahkan untuk dimusnahkan karena puslit kimia memiliki alat mobile incenerator yang bisa memusnahkan B3. Kepala puslit menyerahkan tugas kepada kepala bidang yang berinisial ST. Dan ST pun menyerahkan kepada MM. Tetapi rupanya wewenang dan jabatan menjadi menggiurkan ketika melihat tumpukan bahan yang ternyata bisa menjadi ladang uang. Maka MM yang mempunyai kenalan bernama DH seorang pengusaha narkoba, mempertemukannya dengan ST dan disitulah awal mula cerita yang menjadikan bencana itu. Sehingga bahan-bahan dijual kepada DH oleh MM atas seijin ST. Dan singkat cerita DH ditangkap maka terungkaplah kasus ini. ST ini padalah masyarakat ilmiah yang memiliki gelar doktoral. Secara kecerdasan otak dan akademis baik sekali tetapi apakah kecerdasan otak saja cukup?? Tidak merasa bersalahkah ia karena perbuatannya bisa saja meracuni anak-anak muda yang masih labil mencari jati diri dan terjerumus ke dalam dunia obat-obatan terlarang?? Hikmah dari kasus kedua yang bisa diambil adalah seimbangkanlah antara IQ, EQ dan SQ dalam diri kita masing-masing. Pria jangan pernah bangga karena selalu merasa memakai logika, dan wanita jangan pernah berlebihan ketika selalu menggunakan hati untuk setiap masalah. Marilah sama2 belajar untuk menggunakan otak dan hati agar semua yang kita lakukan bisa dipertanggungjawabkan nantinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar